Wisata Kuliner

“Sego Gudang” Kuliner Tradisional Khas Klaten Yang Masih Lestari

on

PariwisataKlaten.com – Satu lagi kuliner khas Klaten, yaitu Sego Gudang, atau Gudangan, merupakan salah satu makanan yang menjadi warisan kuliner Nusantara. Nama ini mungkin masih asing bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Sego Gudang memang tidak setenar sego liwet atau gudeg meski ketiganya dilahirkan di tanah yang saling berdekatan. Sego Gudang adalah makanan sehari-hari penduduk pedesaan di beberapa wilayah di Kabupaten Klaten.

Sego Gudang - Kuliner Tradisional Khas Klaten

Sego Gudang – Kuliner Tradisional Khas Klaten ( Gambar Oleh Hendra Wardhana)

Sego gudang diracik dari aneka sayuran yang diiris halus, beri bumbu parutan kelapa dan ditaburi kedelai goreng yang ditumbuk kasar. Berbeda dengan uraban dan terancam yang pedas, parutan kelapa untuk sego gudang didominasi rasa bawang putih dan kencur yang dipercaya menaikkan nafsu makan.

Sego Gudang biasa dijual pagi hari karena masyarakat setempat biasa menjadikannya bekal untuk dibawa ke sawah atau sebagai sarapan anak-anak sebelum berangkat ke sekolah. Oleh karena itu di atas jam 8 pagi Sego Gudang sudah sulit dijumpai.

Sego Gudang - Kuliner Tradisional Khas Klaten

Sego Gudang – Kuliner Tradisional Khas Klaten (Gambar Oleh Hendra Wardhana)

Lalu seperti apa Sego Gudang itu?. Racikan Sego Gudang terdiri dari nasi putih dengan aneka sayuran yang diracik dengan bumbu-bumbu desa. Sego Gudang juga dikenal dengan nama “Gudangan” karena kerap dijual terpisah dengan nasi.

Sepintas Sego Gudang atau Gudangan mirip dengan uraban, keluban, trancam, atau racikan sejenisnya. Oleh karena itu penikmat makanan-makanan tersebut mungkin juga akan menyukai Sego Gudang ini. Meski mirip namun Sego Gudang memiliki keunikannya sendiri. Sayuran yang digunakan adalah daun pepaya, tauge atau kecambah, kobis, wortel, daun kemangi dan kacang panjang. Sayuran tersebut hanya direbus setengah matang sehingga menimbulkan bunyi “krekut-krekut” ketika disantap. Jika  keluban, uraban dan trancam menggunakan sayuran yang diiris kasar, maka dalam racikan Gudangan sayuran diiris sangat halus. Sayuran tersebut dicampur dengan parutan kelapa yang telah dimasak menggunakan campuran bumbu yang terdiri dari sedikit gula merah, sedikit cabai, kencur, garam dan bawang putih. Inilah yang membuat sego gudang memiliki cita rasa khas karena tidak pedas tetapi didominasi rasa bawang dan kencur yang bertahan lama di lidah. Bukan hanya itu saja, Sego Gudang juga ditaburi dengan kedelai goreng yang ditumbuk kasar. Meski terlihat aneh, namun taburan kedelai goreng ternyata mampu memperkuat kenikmatan rasa Sego Gudang.

Sego gudang semakin nikmat disantap jika nasinya masih panas atau hangat. Alas dan bungkus daun pisang yang digunakan membuat sego gudang semakin menggugah selera. Masyarakat pedesaan di Klaten biasanya menikmatinya dengan kerupuk karak yang terbuat dari beras. Kerupuk karak banyak dijumpai di Yogyakarta, Klaten dan Solo. Menikmati Sego Gudang juga bisa ditemani  tempe kemul yang terbuat dari tempe yang belum sempurna fermentasinya sehingga butiran kedelainya masih jelas.

Meski racikan Sego Gudang sangat sederhana tapi rasanya sangat Indonesia. Sekali mencicipinya lidah akan tergoda lagi untuk minta tambah. Harganya pun sangat murah. Sepiring sego gudang dengan tambahan sebuah tempe kemul dan karak  dihargai Rp. 3000. Jika hanya membeli Gudangan saja tanpa nasi, maka sebungkus kecil racikan sayurannya dihargai Rp. 1000 saja!!.

Meski kental dengan kearifan lokal setempat, namun Sego Gudang sudah semakin jarang dijumpai. Dahulu selain untuk sarapan Sego Gudang juga banyak digunakan sebagai pelengkap beberapa upacara tradisi seperti syukuran kelahiran bayi hingga sadranan. Kini selain hanya dijual di pagi hari, orang yang merawat warisan kuliner inipun tak banyak lagi. Hanya beberapa orang tua di desa-desa tertentu di Klaten yang masih setia menjual Sego Gudang. Merekapun umumnya hanya berjualan di rumah. Beruntung masih ada masyarakat setempat, meski tidak banyak, yang masih setia menyantap Sego Gudang sebelum berangkat ke sawah atau menjadikannya sarapan anak sebelum berangkat  sekolah. Semoga mereka bukan pembuat dan penikmat Sego Gudang terakhir.

Diadaptasi dari cerita : Hendra Wardhana

Sumber : Kompasiana

About triyan91

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *